Sejarah Gunung Bromo Tengger dan Semeru
Travel Blog

Sejarah Gunung Bromo Tengger dan Semeru


Gunung Bromo merupakan salah satu destinasi wisata paling terkenal di Jawa Timur. Keindahan matahari terbit, lautan pasir yang luas, kawah aktif, serta panorama pegunungan membuat kawasan ini selalu menarik wisatawan dari berbagai daerah. Namun, sejarah Gunung Bromo Tengger dan Semeru jauh lebih menarik daripada sekadar keindahan alamnya. Di balik panorama Gunung Bromo terdapat sejarah geologi yang sangat panjang, legenda Roro Anteng dan Joko Seger, serta tradisi masyarakat Suku Tengger yang masih bertahan hingga sekarang. Kawasan ini juga menjadi bagian penting dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang meliputi wilayah Kabupaten Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. Memahami sejarah Gunung Bromo Tengger dan Semeru akan membuat perjalanan wisata ke kawasan ini menjadi lebih bermakna. Wisatawan tidak hanya melihat sunrise dan kawah, tetapi juga memahami bagaimana alam, budaya, dan kepercayaan masyarakat berkembang selama ratusan hingga jutaan tahun.

Awal Mula Gunung Tengger

Sejarah Gunung Bromo dimulai jauh sebelum kawasan ini menjadi tujuan wisata populer. Secara geologi, kawasan Bromo merupakan bagian dari kompleks vulkanik Tengger yang terbentuk melalui aktivitas gunung api selama jutaan tahun. Pada masa lampau, terdapat gunung purba berukuran sangat besar yang dikenal sebagai Gunung Tengger. Aktivitas vulkanik yang berlangsung sangat lama kemudian menghasilkan berbagai lapisan batuan dan endapan vulkanik di kawasan tersebut. Letusan besar pada masa lampau menyebabkan sebagian tubuh gunung purba mengalami keruntuhan. Proses tersebut membentuk sebuah cekungan atau kaldera yang sangat luas. Kaldera inilah yang kemudian dikenal sebagai Kaldera Tengger. Kaldera Tengger menjadi salah satu ciri paling khas dari kawasan Bromo. Di dalam kaldera tersebut kemudian muncul beberapa gunung api baru, termasuk Gunung Bromo dan Gunung Batok. Proses geologi tersebut menjelaskan mengapa ketika wisatawan berada di kawasan Bromo, mereka dapat melihat hamparan lautan pasir yang dikelilingi oleh beberapa gunung. Pemandangan tersebut sebenarnya merupakan hasil dari proses vulkanik yang berlangsung dalam waktu sangat panjang.

Terbentuknya Lautan Pasir Bromo

Salah satu daya tarik utama dalam sejarah Gunung Bromo Tengger dan Semeru adalah terbentuknya lautan pasir. Hamparan pasir yang terlihat sangat luas di sekitar Bromo merupakan bagian dari dasar Kaldera Tengger. Material vulkanik berupa abu, pasir, batuan, dan endapan hasil aktivitas gunung api secara bertahap membentuk permukaan kaldera. Ketika berada di lautan pasir, wisatawan mungkin merasa seperti sedang berada di gurun. Namun, kawasan tersebut sebenarnya merupakan lingkungan vulkanik di dataran tinggi Jawa Timur. Keunikan inilah yang menjadikan Bromo berbeda dari banyak destinasi gunung lainnya. Wisatawan dapat menikmati perpaduan antara gunung api, kaldera, padang pasir, perbukitan, serta vegetasi pegunungan dalam satu kawasan.

Gunung Bromo dan Aktivitas Vulkanik

Gunung Bromo memiliki ketinggian sekitar 2.329 meter di atas permukaan laut. Meskipun tidak termasuk gunung tertinggi di Indonesia, Bromo sangat terkenal karena karakter vulkaniknya. Puncak Bromo berbentuk kawah yang masih aktif. Dari area tertentu, wisatawan dapat melihat asap putih yang keluar dari kawah. Aktivitas tersebut menjadi pengingat bahwa Gunung Bromo bukan hanya objek wisata, tetapi gunung api yang masih aktif. Dalam sejarah Gunung Bromo Tengger dan Semeru, aktivitas vulkanik memiliki peranan penting dalam membentuk lanskap kawasan. Letusan dan aktivitas gunung api secara terus-menerus mengubah bentuk permukaan tanah sekaligus menghasilkan material vulkanik yang kemudian menjadi bagian dari ekosistem di sekitarnya. Karena merupakan gunung api aktif, kondisi kawasan Bromo dapat berubah sesuai aktivitas vulkaniknya. Oleh sebab itu, wisatawan harus selalu mengikuti informasi dan aturan keselamatan dari pihak berwenang ketika berkunjung.

Legenda Roro Anteng dan Joko Seger

Selain sejarah geologi, sejarah Gunung Bromo Tengger dan Semeru juga sangat erat dengan cerita rakyat masyarakat Tengger. Legenda yang paling terkenal adalah kisah Roro Anteng dan Joko Seger. Roro Anteng dipercaya memiliki hubungan dengan keluarga bangsawan Majapahit, sedangkan Joko Seger dikenal sebagai seorang pemuda yang memiliki karakter baik dan religius. Keduanya kemudian menikah dan membangun kehidupan di kawasan pegunungan Tengger. Namun, mereka belum memiliki keturunan. Karena sangat menginginkan anak, keduanya melakukan semedi dan memohon kepada Sang Hyang Widhi. Permohonan tersebut akhirnya dikabulkan. Mereka dikaruniai banyak anak, tetapi terdapat sebuah syarat yang harus dipenuhi. Anak terakhir harus dipersembahkan kepada kekuatan spiritual Gunung Bromo. Ketika waktunya tiba, pasangan tersebut mengalami dilema karena tidak ingin kehilangan anak mereka. Dalam legenda tersebut, Gunung Bromo kemudian mengalami letusan dahsyat. Raden Kusuma, anak bungsu Roro Anteng dan Joko Seger, akhirnya diyakini mengorbankan dirinya demi keselamatan keluarga dan masyarakat. Kisah inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar spiritual lahirnya tradisi Yadnya Kasada.

Asal Nama Tengger

Nama Tengger juga memiliki kaitan erat dengan legenda Roro Anteng dan Joko Seger.Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, kata Tengger berasal dari gabungan nama Roro Anteng dan Joko Seger. β€œTeng” diambil dari nama Anteng, sedangkan β€œGer” berasal dari nama Seger. Legenda tersebut menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Tengger. Bagi masyarakat setempat, kisah Roro Anteng dan Joko Seger bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi menjadi bagian dari nilai budaya dan spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Yadnya Kasada: Tradisi Suci Masyarakat Tengger

Salah satu warisan budaya paling terkenal dalam sejarah Gunung Bromo Tengger dan Semeru adalah upacara Yadnya Kasada atau Kasada. Setiap tahun, masyarakat Tengger melaksanakan ritual di kawasan Gunung Bromo. Mereka membawa berbagai sesaji seperti hasil pertanian, makanan, dan persembahan lainnya untuk diletakkan atau dilemparkan ke arah kawah Bromo. Tradisi tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur sekaligus penghormatan terhadap leluhur dan kekuatan spiritual yang mereka yakini. Bagi wisatawan, Yadnya Kasada menjadi pengalaman budaya yang sangat menarik. Namun, karena merupakan ritual keagamaan masyarakat Tengger, wisatawan harus tetap menghormati prosesi dan tidak mengganggu jalannya upacara.

Gunung Semeru dalam Sejarah Kawasan Tengger

Selain Gunung Bromo, Gunung Semeru menjadi bagian penting dari kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian sekitar 3.676 meter di atas permukaan laut. Dalam tradisi masyarakat Jawa dan Hindu, Semeru atau Mahameru memiliki nilai spiritual yang sangat penting. Nama Mahameru merujuk pada konsep gunung suci dalam tradisi Hindu. Karena itu, keberadaan Gunung Semeru tidak hanya memiliki nilai geografis dan vulkanologi, tetapi juga nilai budaya dan spiritual. Gunung Semeru merupakan gunung api aktif dan memiliki karakter erupsi yang berbeda dengan Bromo. Aktivitas vulkaniknya menjadi bagian dari dinamika alam kawasan Jawa Timur.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Perjalanan panjang sejarah Gunung Bromo Tengger dan Semeru kemudian memasuki babak baru ketika kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada tahun 1982. Taman nasional tersebut memiliki fungsi penting untuk melindungi ekosistem pegunungan, keanekaragaman hayati, kawasan vulkanik, serta lingkungan alami di sekitarnya. Wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mencakup beberapa kabupaten di Jawa Timur, yaitu Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. Kawasan ini memiliki berbagai objek wisata populer seperti Penanjakan, Kawah Bromo, Lautan Pasir, Bukit Teletubbies, Savana, serta jalur pendakian Gunung Semeru.

Bromo sebagai Destinasi Wisata Dunia

Saat ini, Gunung Bromo menjadi salah satu ikon pariwisata Jawa Timur. Ribuan wisatawan datang untuk menikmati sunrise dari kawasan Penanjakan, melihat panorama Kaldera Tengger, berkuda melintasi lautan pasir, hingga mendaki menuju kawah Bromo. Namun, memahami sejarah Gunung Bromo Tengger dan Semeru membuat pengalaman tersebut menjadi lebih istimewa. Ketika wisatawan berdiri di lautan pasir, mereka sebenarnya sedang berada di kawasan kaldera vulkanik yang terbentuk melalui proses geologi sangat panjang. Ketika melihat kawah Bromo, mereka sedang menyaksikan gunung api aktif. Dan ketika menyaksikan tradisi masyarakat Tengger, mereka sedang melihat warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, Bromo bukan hanya tentang sunrise. Sejarah Gunung Bromo Tengger dan Semeru merupakan perpaduan antara kekuatan alam, proses geologi, legenda, budaya, dan kehidupan masyarakat. Inilah yang membuat kawasan Bromo Tengger Semeru memiliki karakter yang begitu kuat dan berbeda dari destinasi wisata lainnya di Indonesia. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Bromo, mengenal sejarahnya berarti memahami bahwa setiap sudut kawasan ini memiliki cerita. Lautan pasir, kawah Bromo, Gunung Batok, Gunung Semeru, hingga tradisi Yadnya Kasada merupakan bagian dari perjalanan panjang yang membentuk identitas kawasan Tengger hingga hari ini.

Ready for Your Bromo Adventure?

Temukan pengalaman wisata terbaik dan booking perjalanan Anda sekarang.

Explore Tour Packages
Logo Logo

Explore the beauty of Bromo Tengger Semeru with trusted local operators and unforgettable experiences.

Contact Us

πŸ“ Jl. Danau Jonge No.H7, D24C, Madyopuro, Kec. Kedungkandang, Kota Malang, Jawa Timur

πŸ“ž +62 851-6862-4848

βœ‰ operatorbromo@gmail.com

Ikuti Kami

Terhubung dengan Wisata Bromo Tengger Semeru melalui media sosial resmi kami.


Β© 2026 SMGIndonesia. All rights reserved.