Travel Blog
Asal Usul Desa Ranu Pani, Jejak Sejarah Suku Tengger di Pintu Gerbang Semeru
Di ketinggian sekitar 2.100 meter di atas permukaan laut, di lereng utara Gunung Semeru, terhampar sebuah desa kecil yang menyimpan jejak sejarah panjang, Desa Ranu Pani. Bagi para pendaki, nama ini identik dengan pos terakhir sebelum menaklukkan Mahameru. Namun jauh sebelum menjadi destinasi wisata dan jalur pendakian populer, Ranu Pani telah dihuni oleh masyarakat Tengger yang menjaga tradisi leluhur mereka selama ratusan tahun.
Makna di Balik Nama Ranu Pani
Nama "Ranu Pani" berasal dari bahasa Kawi. Sumber menyebutkan bahwa kata "ranu" berarti danau, sedangkan "pani" dapat diartikan sebagai tangan, sehingga danau ini disebut sebagai "Danau Tangan". Namun ada pula tafsir lain yang menyebutkan bahwa "Pani" berarti air, sehingga Ranu Pani dapat dimaknai sebagai "danau berair" atau "danau sumber kehidupan". Apa pun tafsirnya, nama desa ini diambil langsung dari danau yang menjadi jantung kehidupan warga setempat, danau yang menjadi asal usul nama desa dengan nama yang sama.
Jejak Leluhur Keturunan Kerajaan Majapahit
Sejarah masyarakat Ranu Pani tidak bisa dilepaskan dari kisah besar suku Tengger. Berdasarkan catatan yang dilansir dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mayoritas masyarakat Desa Ranu Pani adalah suku Tengger, suku keturunan Kerajaan Majapahit. Bahkan dalam catatan sejarah, masyarakat suku Tengger mendapat gelar kehormatan sebagai Tiyang Gajahmada, yang berarti "masyarakatnya Mahapatih Gajah Mada".
Cerita turun-temurun di kalangan warga juga menyebutkan bahwa kawasan ini konon merupakan tempat pelarian masyarakat Majapahit pada masa lampau. Sejumlah sumber menguatkan hal ini, sebagaimana disebutkan bahwa desa ini sejak ratusan tahun lalu telah dihuni oleh masyarakat Tengger yang diyakini sebagai keturunan Kerajaan Majapahit. Hingga kini, suku Tengger di Ranu Pani masih memegang teguh identitas dan tradisi leluhur mereka, menjadikan desa ini salah satu kantong budaya Jawa kuno yang paling terjaga di kawasan Bromo Tengger Semeru.
Kehidupan Spiritual dan Tradisi yang Masih Lestari
Secara spiritual, masyarakat Tengger di Ranu Pani dikenal sebagai pemeluk agama Hindu yang taat secara turun-temurun. Tradisi Hindu Jawa ini tetap dijaga meski desa mereka berada jauh dari pusat-pusat kebudayaan Hindu Bali. Salah satu tradisi paling terkenal adalah upacara Kasada atau Yadnya Kasada, yang dilakukan setiap tahun pada bulan purnama kapat, yaitu bulan ke-12 dalam kalender Tengger.
Selain itu, jejak spiritual suku Tengger juga masih dapat ditemukan secara fisik di sekitar desa. Terdapat pula pura kecil bernama Pedanyangan yang masih aktif digunakan untuk peribadatan umat Hindu suku Tengger hingga saat ini.
Dari Dusun Menjadi Desa Mandiri
Secara administratif, Ranu Pani awalnya bukanlah desa yang berdiri sendiri. Catatan resmi desa menyebutkan bahwa Ranu Pani sebelumnya merupakan dusun yang menjadi bagian dari Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Barulah pada tahun 2001 terjadi pemekaran wilayah yang menjadikan Ranu Pani sebagai desa mandiri, dan kini dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di Lumajang.
Sebagai desa yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi, wilayah Ranu Pani berbatasan dengan Desa Ngadas (Kabupaten Malang) di sebelah utara, Desa Burno di Kecamatan Senduro di sebelah selatan, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di sebelah barat, serta Desa Argosari di sebelah timur.
Gerbang Utama Menuju Semeru Sejak Zaman Kolonial
Peran Ranu Pani sebagai titik transit pendakian ternyata bukan fenomena baru. Sejarah mencatat bahwa desa ini sudah menjadi titik transit para pendaki Semeru sejak zaman kolonial Belanda, dan peran tersebut tetap bertahan hingga kini sebagai jalur utama pendakian menuju puncak Mahameru.
Posisi geografisnya yang strategis membuat desa ini menjadi jalur favorit. Salah satu sumber mencatat bahwa Ranu Pani sering dilalui pendaki karena jaraknya menuju puncak lebih dekat dibanding jalur lain, yaitu sekitar 20 kilometer. Rute pendakian klasik yang dimulai dari desa ini adalah Ranu Pani – Ranu Kumbolo – Kalimati – Arcopodo – Mahameru.
Menariknya, meski berada di lereng Gunung Semeru, desa ini relatif aman dari dampak vulkanik. Hal ini karena debu vulkanik serta guguran lahar dingin Semeru selalu mengarah ke timur, sementara Desa Ranu Pani berada di sebelah utara gunung.
Kehidupan Masyarakat Ranu Pani Hari Ini
Saat ini, populasi Ranu Pani diperkirakan berkisar antara 1.300 jiwa hingga sekitar 2.000 penduduk tergantung sumber pencatatan, dengan mayoritas berasal dari suku Tengger asli. Secara mata pencaharian, warga desa ini didominasi oleh sektor pertanian dataran tinggi. Sebagian besar warga berprofesi sebagai petani kentang, kubis, bawang prei, dan wortel, sementara sumber lain menyebut warga juga bekerja sebagai porter bagi para pendaki Semeru.
Dari sisi tata wilayah, data resmi desa mencatat bahwa Ranu Pani terbagi menjadi 3 RW dan 7 RT, dengan dua dusun yaitu Dusun Besaran dan Dusun Sidodadi, lengkap dengan fasilitas kesehatan berupa puskesmas pembantu dan dua posyandu.
Warisan yang Terus Hidup
Dari dusun kecil yang menjadi tempat pelarian masyarakat Majapahit, hingga menjelma sebagai gerbang utama pendakian Gunung Semeru yang dikenal wisatawan mancanegara, Desa Ranu Pani membuktikan bahwa sejarah dan budaya bisa terus hidup berdampingan dengan modernitas. Suku Tengger yang mendiami desa ini tidak hanya menjaga tanah leluhur, tetapi juga tradisi, kepercayaan, dan cara hidup yang telah bertahan selama berabad-abad, menjadikan Ranu Pani bukan sekadar titik transit pendakian, melainkan juga jendela untuk memahami akar budaya Jawa kuno di kaki Semeru.
Ready for Your Bromo Adventure?
Temukan pengalaman wisata terbaik dan booking perjalanan Anda sekarang.
Explore Tour Packages